Program Description:
The Office of Academic Exchange Programs in the Bureau of Educational and Cultural Affairs of the U. S. Department of State, is pleased to announce a new exchange program for undergraduate students-the 2012 Global Undergraduate Exchange Program (Global UGRAD)
The Global UGRAD Program provides scholarships for one semester or one academic year of U.S. Study in a NON-DEGREE Program. The goals of the program are to provide a diverse group of emerging student leaders, from non-elite and underrepresented groups in Indonesia and East Asia.
All global UGRAD Program participants will be enrolled full-time in undergraduate course work chosen from the institution’s (US) existing curriculum to allow students ample opportunity for ongoing interaction with U.S. Faculty and student peers, and for exposure to U.S. academic and classroom culture.
To ensure that students succeed in their new academic environments, host institutions will offer tailored instruction on topics including academic research and writing, critical thinking, time management, note taking, and studying for and taking tests. Participants will live on campus with American peers.
Students will also be provided with opportunities to participate in up to ten hours of community service per semester. Additionally, an internship component will be offered to all academic-year participants during the academic component of the program. Internships will be related to each participant’s field of study and/or career plans.
Participants may be eligible for up to 4 weeks of intensive English Language instruction in the United States prior to the start of academic portion of their program.
Eligibility:
1/ Scholarships will be granted to students who currently are enrolled in S-1 degree programs only, and have completed their first semester and up to their firth semester of undergraduate study at an Indonesian university.
2/ Applicants should demonstrate leadership potential through academic work, community involvement, and extracurricular activities.
3/ Applicants must have minimum ITP/IBT TOEFL score of 500-score or IELTS 5.0 less than two years old. In some cases a personal interview by a fluent qualified Native English Speaker who can confirm that the nominee would be able to achieve that score when tested is acceptable. Candidates must also meet all the requirements of the institution where admission is being sought.
4/ Preference will be given to those who have had little or NO experience in the U.S. or outside of their home countries.
5/ Applications can be for either for one semester or two semesters based on nominee’s availability. No applications should be submitted for both one semester and full year programs.
6/ Applicants are required to return to Indonesia after the completion of the one or two semester program.
Submission of Applications
An original application and two copies should be submitted to the address below by: November 1, 2011
American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF)
CIMB NIAGA Plaza, Lantai 3
Jl. Jend. Sudirman Kav. 25
Jakarta 12920
For additional information, contactinfofulbright_ind@aminef.or.id.
Original website: http://www.aminef.or.id/fulbright.php?site=fulbright&m=ip-pro-sp-globalunderex
Sunday, March 6, 2011
Saturday, March 5, 2011
Semiotika Mistis Jogja!
Noth dalam bukunya Handbook of Semiotics mengatakan bahwa istilah semiotik berasal dari bahasa latin yaitu Semeion (tanda). Nah, dari hal ini bisa dikatakan bahwa segala apapun yang ada di dunia ini pasti memiliki arti di balik tanda tersebut.. (hurray, plok..plok..plok). Selain itu, di dalam istilah semiotik ada dua hal yang sangat penting yg kata empunya, Ferdinand De Saussure, kedua hal tersebut adalah merupakan prinsip dasar dari teori semiotic. Kedua hal ini adalah; signifier (penanda) bentuk dan signified (petanda) makna atau arti.
Udah gitu aja kali ye. Ane gak mau jauh-jauh, ribet-ribet ngebahas abis dan mendalam tentang semiotik (bilang aja agan gk tau T,T). Bukan gitu. Ane mau langsung kasi contoh simpel aja deh, yang pasti ada kaitannya dan gak jauh-jauh amat dari semiotik. Contohnya ane ambil dari buku yang judulnya ‘’Urip Mung Mampir Ngguyu karya Dr. Sidik Jatmika M.Si (kok jadi promosi ?huakakak). Katanya beliau sih, kejadian berikut ini pernah di angkat sebagai judul disertasi S-3 bidang Ilmu Hukum (S-3 cuy, ane aja masih pake ijazah SMA.. !) dengan peringkat summa cum laude (ckckckck) yang judulnya “Para Pelaku Anarkis Jogja; secara empiris ternyata lebih menaati aturan hukum yang di terbitkan oleh para penegak hukum ALAM GHAIB daripada upaya law-enforcement melalui perda yang di terbitkan oleh pemerintah dan DPRD di alam dunia nyata ini
Langsung aja yak. Gimana agan-agan ini setuju gak orang Jogja pada susah di atur? (Ups, maaf. Ane sih gk setuju karena gak semuanya). Ya bias iya bisa engga. Contoh simpelnya gini, suatu ketika Kepala Dinas Kebersihan Jogja dibuat pusing karena ulah para oknum yang pipis sembarangan di sepanjang tempat di Malioboro (ckckc, jangan di tiru yak!). Hasil rekaman CCTV yang di pasang tersembunyi di balik tembok pasar Beringharjo menunjukan ada banyak sekali pelaku yang frontalis ini berasal dari kalangan sopir, kondektur bus kota, maupun tukang becak yang semuanya mengandalkan muka tebal alias cuek nempel kayak cicak di sembarang pagar atau tembok buat mengurangi beban kehidupan yang sudah sangat memaksa (baca; pipis..hehe)
Seolah ingin menyukseskan program emansipasi, kaum hawa pun tak mau kalah di buatnya. Sepulang dari pasar Beringharjo, beberapa “Mbo Bakul” pun memanfaatkan fasilitas toilet- portable (wc jinjing) yang menempel di lilitan kain kebayanya. Merekapun tak kalah agresifnya dengan para pria, sama halnya dengan gaya tanpa dosa, cukup mepet di sembarang pojok pagar maupun tembok untuk meringankan tubuh (baca: pipis juga).
Dalam kasus di atas Kepala Dinas Kebersihan kota sudah seakan kehabisan akal bin “stuck” menghadapinya dari mulai cara alus (sosialisasi) bahkan dengan mengeluarkan aturan teruntuk para oknum tersebut. Tapi hasilnya nihil. Memang dasar para oknum tersebut, pada kenyataannya malah seakan melawan atau memberontak terhadap aturan tersebut. Contohnya, ada” warning” yang bunyinya begini DILARANG PIPIS SEMBARANGAN DI SEPANJANG MALIOBORO “Ee.. paginya udah ada gambar tanda panah sekaligus tulisannya yg bilang “DISITU BOLEH KOK KENCING SEMBARANGAN!!!. Tak kalah sadis ada warning yang dengan dongkolnya berbunyi begini “HANYA ANJING YANG KENCING SEMBARANGAN” “Ee.. paginya udah ada lagi gambar manusia dengan tulisan “MANUSIA NGGAK PAPA KOK SILAHKAN KENCING DISINI”
Karena takut kejadian ini akan mempengaruhi program “Visit Jogja” Kadin ini pun kemudian menghadap Sri Sultan untuk meminta saran beliau. Konon, dengan tersenyum simpul sang Sultan pun kemudian memerintahkan Kadin kebersihan kota yang udah dongkol ini meletakkan jembangan berisi tanah liat lengkap berisi air setengah wadah dan aneka bunga yang konon merupakan kegemaran para Dhemit (Baca: Roh Halus) di berbagai pojok yang berbau pesing tersebut.
Walhasil, sejak saat itu tidak ada lagi satu oknum pun yang berani pipis sembarangan di Malioboro. Lho kok bisa?? Menurut sumber yang gk bisa di percaya, para oknum tersebut sudah tidak berani lagi pipis di sembarang tempat di Malioboro. Entah dipaksa atau tidak, menurut mereka, mereka sudah sangat ngeri ketika mencium bau bunga dan menyan yang berasal dari jembangan tersebut. Mereka membayangkan akibat buruk yang akan terjadi jika mereka masih tetap nekad mengencingi benda-benda kramat tersebut. Yaitu, kemungkinan terjadinya kerusakan sparepart atau onderdil yang ada kaitannya dengan sarana-prasarana yang melekat pada tubuhnya yang juga tentunya berkaitan dengan aktivitas pipis sembarangan tersebut…
Nah, itulah ulasan singkat tentang contoh sederhana yang terjadi pada masyarakat Jogja. Kembali ke istilah “Semiotik.” Itulah kenapa ane lebih gampang menjelasakan dengan bercerita.
Jembangan, bunga, menyan, de el el.. tersebut bisa jadi memiliki makna yang sangat sakral bagi para oknum-oknum tersebut (yang mungkin kita tidak mengerti) sehingga mereka tidak lagi berani melakukan sifat brutalnya. Jembangan, bunga, & menyan tersebut juga mungkin menjadi sebuah simbol yang memiliki makna di balik hal-hal tersebut. Inilah yang di maksud Ferdinand sebagai signifier (penanda) dan signified (petanda). Jembangan, menyan, dan bunga merupakan signifier (penanda) dan arti di balik hal tersebut atau larangan aturan yang ada pada benda tersebut adalah signified (petanda).
Happy Reading
Source: Urip Mung Mampir Ngguyu.
Rewrite by: Fendi
Udah gitu aja kali ye. Ane gak mau jauh-jauh, ribet-ribet ngebahas abis dan mendalam tentang semiotik (bilang aja agan gk tau T,T). Bukan gitu. Ane mau langsung kasi contoh simpel aja deh, yang pasti ada kaitannya dan gak jauh-jauh amat dari semiotik. Contohnya ane ambil dari buku yang judulnya ‘’Urip Mung Mampir Ngguyu karya Dr. Sidik Jatmika M.Si (kok jadi promosi ?huakakak). Katanya beliau sih, kejadian berikut ini pernah di angkat sebagai judul disertasi S-3 bidang Ilmu Hukum (S-3 cuy, ane aja masih pake ijazah SMA.. !) dengan peringkat summa cum laude (ckckckck) yang judulnya “Para Pelaku Anarkis Jogja; secara empiris ternyata lebih menaati aturan hukum yang di terbitkan oleh para penegak hukum ALAM GHAIB daripada upaya law-enforcement melalui perda yang di terbitkan oleh pemerintah dan DPRD di alam dunia nyata ini
Langsung aja yak. Gimana agan-agan ini setuju gak orang Jogja pada susah di atur? (Ups, maaf. Ane sih gk setuju karena gak semuanya). Ya bias iya bisa engga. Contoh simpelnya gini, suatu ketika Kepala Dinas Kebersihan Jogja dibuat pusing karena ulah para oknum yang pipis sembarangan di sepanjang tempat di Malioboro (ckckc, jangan di tiru yak!). Hasil rekaman CCTV yang di pasang tersembunyi di balik tembok pasar Beringharjo menunjukan ada banyak sekali pelaku yang frontalis ini berasal dari kalangan sopir, kondektur bus kota, maupun tukang becak yang semuanya mengandalkan muka tebal alias cuek nempel kayak cicak di sembarang pagar atau tembok buat mengurangi beban kehidupan yang sudah sangat memaksa (baca; pipis..hehe)
Seolah ingin menyukseskan program emansipasi, kaum hawa pun tak mau kalah di buatnya. Sepulang dari pasar Beringharjo, beberapa “Mbo Bakul” pun memanfaatkan fasilitas toilet- portable (wc jinjing) yang menempel di lilitan kain kebayanya. Merekapun tak kalah agresifnya dengan para pria, sama halnya dengan gaya tanpa dosa, cukup mepet di sembarang pojok pagar maupun tembok untuk meringankan tubuh (baca: pipis juga).
Dalam kasus di atas Kepala Dinas Kebersihan kota sudah seakan kehabisan akal bin “stuck” menghadapinya dari mulai cara alus (sosialisasi) bahkan dengan mengeluarkan aturan teruntuk para oknum tersebut. Tapi hasilnya nihil. Memang dasar para oknum tersebut, pada kenyataannya malah seakan melawan atau memberontak terhadap aturan tersebut. Contohnya, ada” warning” yang bunyinya begini DILARANG PIPIS SEMBARANGAN DI SEPANJANG MALIOBORO “Ee.. paginya udah ada gambar tanda panah sekaligus tulisannya yg bilang “DISITU BOLEH KOK KENCING SEMBARANGAN!!!. Tak kalah sadis ada warning yang dengan dongkolnya berbunyi begini “HANYA ANJING YANG KENCING SEMBARANGAN” “Ee.. paginya udah ada lagi gambar manusia dengan tulisan “MANUSIA NGGAK PAPA KOK SILAHKAN KENCING DISINI”
Karena takut kejadian ini akan mempengaruhi program “Visit Jogja” Kadin ini pun kemudian menghadap Sri Sultan untuk meminta saran beliau. Konon, dengan tersenyum simpul sang Sultan pun kemudian memerintahkan Kadin kebersihan kota yang udah dongkol ini meletakkan jembangan berisi tanah liat lengkap berisi air setengah wadah dan aneka bunga yang konon merupakan kegemaran para Dhemit (Baca: Roh Halus) di berbagai pojok yang berbau pesing tersebut.
Walhasil, sejak saat itu tidak ada lagi satu oknum pun yang berani pipis sembarangan di Malioboro. Lho kok bisa?? Menurut sumber yang gk bisa di percaya, para oknum tersebut sudah tidak berani lagi pipis di sembarang tempat di Malioboro. Entah dipaksa atau tidak, menurut mereka, mereka sudah sangat ngeri ketika mencium bau bunga dan menyan yang berasal dari jembangan tersebut. Mereka membayangkan akibat buruk yang akan terjadi jika mereka masih tetap nekad mengencingi benda-benda kramat tersebut. Yaitu, kemungkinan terjadinya kerusakan sparepart atau onderdil yang ada kaitannya dengan sarana-prasarana yang melekat pada tubuhnya yang juga tentunya berkaitan dengan aktivitas pipis sembarangan tersebut…
Nah, itulah ulasan singkat tentang contoh sederhana yang terjadi pada masyarakat Jogja. Kembali ke istilah “Semiotik.” Itulah kenapa ane lebih gampang menjelasakan dengan bercerita.
Jembangan, bunga, menyan, de el el.. tersebut bisa jadi memiliki makna yang sangat sakral bagi para oknum-oknum tersebut (yang mungkin kita tidak mengerti) sehingga mereka tidak lagi berani melakukan sifat brutalnya. Jembangan, bunga, & menyan tersebut juga mungkin menjadi sebuah simbol yang memiliki makna di balik hal-hal tersebut. Inilah yang di maksud Ferdinand sebagai signifier (penanda) dan signified (petanda). Jembangan, menyan, dan bunga merupakan signifier (penanda) dan arti di balik hal tersebut atau larangan aturan yang ada pada benda tersebut adalah signified (petanda).
Happy Reading
Source: Urip Mung Mampir Ngguyu.
Rewrite by: Fendi
Friday, March 4, 2011
Romantika Anak Kost
Hal yang patut di banggakan dari para mahasiswa di jogja,khususnya buat mereka yang pada kere (maaf gan, ane juga kok...behehehe), bahwa mereka semua adalah Mahasiswa yang cerdas (ciee pada nyengir, tapi jangan seneng dulu yak!) Cerdas, maksud ane disini adalah cerdas dalam mengelola keuangan alias strategi jitu buat survive idup jauh dari orang tua. Ada banyak cara si emang, banyak banget. Dari mulai nyambi kerja part time, mlm, etc. Tapi disini ane cuma pengen cerita tentang cara konyol yang dipake buat mereka yang udah pada kepepet, mentok, bin stuck. haha
Rumus Standar makan di warung
setengah + setengah: satu setengah. (lho kok bisa??)
Itu lah gan hebatnya. Bertahan idup juga mesti pake rumus ekonomi "mencari untung dengan modal dikit tapi untungnya banyak (begitu gak bunyinya?? ane lupa, apa aja deh pokonya begitu...hahaha)
Aplikasinya di dalam kehidupan nyata kira-kira begini gan. Kalo agan pengen dapet akumulatif sarapan yang lebih banyak, ane nyaranin jangan langsung pesen 1 piring/porsi (kenape gan?). Karena kalo gitu agan cuma dapet 1 piring/porsi aja gan (gak kenyang kan?). Saran ane agan pesen setengah dulu. Nah kalo separo porsi itu udah abis, baru agan pesen lagi setengah porsi.
Percaya ato engga, ternyata akumulasi nasi (telor/sarden/sayur; burjo banget...haha) pertama yang agan pesen di tambah dengan setengah porsi kedua bakal ngasilin itungan akumulatif "satu setengah" bukan satu. Rumus ini pastinya relevan sama rumus ekonomi yang udah ane jelasin sebelumnya (buka buku sambil nyari2 rumus)" pengorbanan seminimal mungkin bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya." Oleh karena itu ane saranin, buat semua warga miskin seantero Jogja (eit, jangan kesindir!hha) sebaiknya rumus ini agan jaga dan lestarikan buat para junior dan jangan sampe jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat. Apalagi kalo sampe ke telinga bang "burjo/angkringan" bisa gawat. Kalo hal ini terjadi, maka berakhirlah petualangan agan-agan sekalian. Bisa repot kan??
Peace and respect!
Rumus Standar makan di warung
setengah + setengah: satu setengah. (lho kok bisa??)
Itu lah gan hebatnya. Bertahan idup juga mesti pake rumus ekonomi "mencari untung dengan modal dikit tapi untungnya banyak (begitu gak bunyinya?? ane lupa, apa aja deh pokonya begitu...hahaha)
Aplikasinya di dalam kehidupan nyata kira-kira begini gan. Kalo agan pengen dapet akumulatif sarapan yang lebih banyak, ane nyaranin jangan langsung pesen 1 piring/porsi (kenape gan?). Karena kalo gitu agan cuma dapet 1 piring/porsi aja gan (gak kenyang kan?). Saran ane agan pesen setengah dulu. Nah kalo separo porsi itu udah abis, baru agan pesen lagi setengah porsi.
Percaya ato engga, ternyata akumulasi nasi (telor/sarden/sayur; burjo banget...haha) pertama yang agan pesen di tambah dengan setengah porsi kedua bakal ngasilin itungan akumulatif "satu setengah" bukan satu. Rumus ini pastinya relevan sama rumus ekonomi yang udah ane jelasin sebelumnya (buka buku sambil nyari2 rumus)" pengorbanan seminimal mungkin bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya." Oleh karena itu ane saranin, buat semua warga miskin seantero Jogja (eit, jangan kesindir!hha) sebaiknya rumus ini agan jaga dan lestarikan buat para junior dan jangan sampe jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat. Apalagi kalo sampe ke telinga bang "burjo/angkringan" bisa gawat. Kalo hal ini terjadi, maka berakhirlah petualangan agan-agan sekalian. Bisa repot kan??
Peace and respect!
Subscribe to:
Posts (Atom)